Jumat, 09 Maret 2012

Inilah Hidupku yang Sesungguhnya


Orang bilang aku kuat, tabah, ceria, riang, jahil, sehat, dll. mereka nggak tahu bahwa semua anggapan itu salah karena aku tahu kekuatan yang aku punya. Aku gak sekuat orang bilang. Aku lemah pada suatu godaan dengan mudah apalagi jika hasilnya instan. Memang semua orang seperti itu tapi aku dengan mudah jatuh ke lubang yang sama. Aku sampai bertanya – tanya betapa bodohnya aku ini hingga cukup sering aku melakukannya.

Banyak orang bilang aku tabah. Seandainya mereka tahu bahwa sering aku menangis sendirian ketika tidak ada orang disekitarku. Banyak masalah yang aku pendamsampai bertahun – tahun hingga nggak da orang yang tahu. Mengendap di hati dan pikiran dan membuatku cenderung introvert. Aku bisa jadi pendengar yang baik tapi aku sulit jadi pembicara ddan mengungkapkan apa yang ada di pikiranku dengan baik. Aku jarang menceritakan masalahku dengan orang lain. Aku cenderung diam kalo ada sesuatu yang mengganggu pikirinku. Seperti temanku pernah ngomong saat kami naik motor ke Semarang. Masalah datang dan aku hanya diam sedangkan dia merutuk sepanjang jalan. Aku lebih suka menulis dan menyimpannya. Hanya aku yang tahu isi hatiku sebenarnya.

Aku bukan tipe pekerja, aku lebih cenderung tipe pemikir. Aku lebih suka bekerja di belakang layar daripada berada di depan dan menerima atensi. Sulit bagiku menghadapi tekanan. Lebih indah menurutku bekerja di belakang layar seperti tim sukses pemilihan calon presiden. Ibarat aku lebih suka menjadi manajer daripada artis. Ahhhh, aku ingin mencapai cita – citaku. Bisakah aku sekolah sesuai keinginanku? Kelak aku gak akan mengekang anakku. Aku akan berusaha sekeras mungkin agar dia menjadisukses dan menjadi apa yang dia inginkan dan dia tidak akan menyesali pilihannya.

Aku riang? Tertawa saja aku mendengarnya. Aku memang mudah tertawa tapi bisa saja tiba – tiba aku merubah moodku tanpa peringatan. Setiap ada masalah aku cenderung murung dan diam, sedikit senyum dan lebih biasa cuek dengan keadaan sekitarku. Jarang aku menyadari ada orang yang menyindirku. Aku bahkan sering tidak tidak tahu ada orang yang mengkhianatiku. Sungguh aku orang yang sangat tidak pantas untuk orang lain. Aku bahkan terlalu buruk untuk diriku sendiri.

Aku yang ceria. Gak semudah itu dengan semua beban berat di kepalamu. Nasib keluarga yang bergantung di pundakmu, ayah yang hanya bisa murka mendengar pendapat orang lain dan selalu membuat masalah dimanapun dia berada, ibu yang memang telah letih menanggung amarah ayah selama berpuluh-puluh tahun dan hanya bisa pasrah, kakak yang memiliki kekurangan hingga sering dipandang kurang mampu oleh sebagian orang, kakak laki-laki satu-satunya yang telah dipanggil terlebih dahulu dan anak terakhir yang harus merasakan air mendidih berada ditubuhnya. Apalagi yang bisa aku lakukan selain menjadi anak yang ceria? “Pandang dari sisi positif.” Itulah yang sering orang katakan. “Ambil hikmahnya.” Mengatakannya memang mudah tapi penerapannya sangat sulit. Aku tidak direncanakan hadir di dunia ini. Aku ada karena kakak tertua diambil terlebih dahulu karena kecelakaan. Apa yang selama ini aku lakukan kadang kurang baik dimata orang tuaku. Aku merasa memang sulit mencari perhatian mereka. Aku pernah jadi cewek liar dengan sering main malam. Namun, cara itu salah. Aku hanya akan dapat cibiran dari orang. Demi keluarga aku sudah rela melepas mimpiku bersama anak-anak spesial itu dengan keinginan orang tuaku. “Orang tua tidak akan menjerumuskan anaknya.” Dengan pertimbangan ini aku ambil keputusan dan aku pilih jalan ini. Apa yang bisa aku lakukan selain tampil ceria setelahnya?

Sepertinya orang sepertiku memang terlalu buruk untuk orang lain. Aku gak selayaknya bersama orang yang baik seperti kalian. Kalian memberikan hal – hal yang sepantasnya gak aku terima. Aku terlalu buruk untuk kalian. Pernah orang tua temanku bilang ke ibuku kalo aku membawa pengaruh buruk untuk anaknya. Aku gak ingin kalian seperti itu. Kata orang itu, “kenakalan bisa menular” sungguh buat aku sakit hati saat itu. Maaf kalo aku memang memberimu pengaruh buruk tapi sesungguhnya aku sudah tahu hatimu yang sebenarnya. Untung saja sekarang kau telah pergi dari kehidupanku. Setidaknya aku memang pantas hidup sendiri dan menderita. Penderitaan ibarat sahabat sejatiku. Menemaniku selama ini. Hidup selama 19 tahun dengan semua hal yang telah aku lalui.


RHANYIE DEANNA TEAQUE
SHIN HYERA
080312

Tidak ada komentar:

Posting Komentar