Kamis, 26 Januari 2012

Kenangan Terindah


Kenapa sakit kepala lama semakin mengganggu? Awalnya dengan obat sakit kepala dan tidur sebentar bisa membuatnya hilang tapi sekarang sulit menghilangkannya. Apa yang terjadi sebenarnya? Sebaiknya apa harus periksa ke dokter? Atau biarkan saja. Mungkin memang cuma sakit kepala biasa yang lagi kambuh aja.
“ Tari, kok bengong aja sih. Ke kantin yuk. Bosen nih nunggu dosen gak dateng – dateng. Lagian kayaknya tuh dosen gak bakal dateng juga kok walaupun kampus ada hujan uang. Ayolah! Daripada gak ada kerjaan kayak gini. “
“ Lagian ngapain juga kamu ikut kelasku? Bukannya kamu ada kelasnya Pak Soni bentar lagi? “
“ Aigoo. Aku dah titip absen kuk sama Ratna. Jadi santai aja. Lagian Pak Soni gak bakal ngabsen juga kuk. Ayolah Tar. Kita ke kantin aja. Kan lebih enak disana. Aku traktir mie ayam deh. “
“ Benernya aku males, tapi apa boleh buat sih daripada cuma mandangin whiteboard doang. “
“ That’s my girl. “
Fanny memang tahu apa yang terbaik untukku. Kami sudah bersama dari SMA. Dia selalu ada saat aku sedih dan bahagia, begitu juga sebaliknya. Kami seperti tak terpisahkan. Bahkan orang tua kami menganggap kalau kami sebenarnya saudara sedarah. Padahal kenyataannya sama sekali berbeda. Fanny bukanlah orang yang gampang menangis, tapi sekali menangis susah buat menenangkannya. Apalagi waktu dia putus dari pacar dan cinta pertamanya, Dwi. Saat itu adalah masa kelam baginya. Sungguh sulit dilupakan.
Masa – masa kuliah memang diidam – idamkan banyak orang. Tak terkecuali aku dan Fanny. Kami memang merencanakan untuk kuliah di salah satu universitas swasta idaman. Dan disinilah kami sekarang. Fanny yang selama hidupnya ingin jadi politikus mengambil jurusan hukum. Sedangkan aku yang telah lama minat dengan hal – hal berbau kejiwaan lebih memilih psikologi. Berbeda memang minat kami, tapi memang seperti itu keadaannya.
“ Tari, coba lihat tuh cowok yang lagi makan bakso di seberang kita! “
“ Ngapain dilihat? Gak ngaruh sama nilai ujian juga. “
“ Aish, lihat dulu deh. Gak bakal nyesel deh. “
“ Iya deh iya. “ sesaat aku hampir lupa dengan wajah manisnya, tapi setelah diingat – ingat ternyata memang benar, “ Itu kan Nico. “
“ Kamu kenal? “
“ Dia temen satu komplek sama aku dulu waktu masih di Koda. Kok dia bisa ada disini? “
“ Lho kamu gak tahu? Dia juga kuliah disini jurusan olahraga. Dia satu angkatan kok sama kita. “
“ Tapi aku gak pernah lihat dia waktu ospek. “
“ Dia kena kecelakaan. Terus dirawat hampir satu bulan. “
“ Kok tahu? “
“ Siapa dulu dong, Fanny. “
Agak mengejutkan memang melihatnya sekarang setelah apa yang terjadi saat itu. Kami pernah dekat dan pernah menjalin hubungan, tapi semua berantakan karena salah paham. Kalo memang dia kuliah disini kenapa gak sekalian aja aku tanya langsung sama dia tentang masalah 3 tahun yang lalu.
“ Fan, aku ketempat Nico sebentar ya. Aku pengen nanya sesuatu sama dia. “
“ Eh, aku ikut ya? “
“ Nico, masih ingat aku? Tanyaku sesampainya di meja Nico.
“ Tari? Kamu kuliah disini juga? Kebetulan banget. “
“ Kenalin ini Fanny, sahabatku. Bisa kita ngomong sebentar?
“ Ngomong aja disini. “
“ Gak bisa. Kamu ikut aku sebentar. “ mengajaknya ke belakang kantin lalu aku memulai vonisku terhadapnya, “ OK langsung aja. Aku cuma pengen kejelasan kenapa kamu tinggalin aku gitu aja tanpa ada alasan apapun. Bahkan nomor handphone kamu gak aktif. Sebenarnya apa yang terjadi. Aku pengen kejelasan. “
“ Maaf, aku gak bermaksud berbuat seperti itu. Aku cuma pengen yang terbaik buat kita. Aku sayang sama kamu Tar. Aku gak pengen kamu sakit. “
“ Justru dengan cara seperti ini lebih nyakitin aku. Kamu gak tahu selama ini aku mikir apa salahku sampe kamu mutusin hubungan kita gitu aja. “
“ Maaf, Tar. Ok aku jelasin semuanya. Papa jodohin aku sama anak rekan bisnisnya. Ini usaha jangka panjang Papa buat bikin usahanya lebih maju. Aku udah protes bahkan kabur dari rumah, tapi kemauan Papa terlalu keras aku gak bisa berbuat apa – apa. Akhirnya aku terima perjodohan itu dengan terpaksa. Kami tunangan saat hari aku ninggalin kamu. Nama cewek itu Nia. Aku gak mau Nia tau tentang kamu. Jadi aku putusin kamu saat itu juga. Aku berusaha melindungi kamu dari Nia. Kalo gak dia pasti bakal kejar kamu dan paksa kamu buat lepasin aku. Aku minta maaf Tari. Aku tahu seharusnya aku cerita ini dulu sama kamu. Kita seharusnya cari jalan keluar sama – sama, tapi aku terlalu panik saat itu dan aku gak bisa mikir cara apapun yang tepat selain ini. “
Seketika itu air mataku meleleh dan gak bisa aku tahan. Nico memelukku erat. Aku bisa merasakan tekanan tangannya dipunggungku dan jemarinya mengelus rambutku, tapi tiba – tiba semuanya gelap. Hal yang aku ingat hanyalah aku terbangun di ruangan berwarna putih dan seorang perawat sedang memasang infus ditanganku. Apa sebenarnya yang terjadi?
“ Nico, ada apa ini? Kenapa ada suster? Kenapa aku dipasangi infus? Aku gak sakit. Kenapa aku disini? “
“ Tenang Tari. Dokter lagi bicara sama orang tuamu di luar dan Fanny sebentar lagi kesini setelah kuliah selesai. “
“ Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada disini? “
“ Kamu pingsan tadi di kampus waktu kita ngobrol. Kata dokter mungkin kecapekan. “
“ Aku gak ngerasa apapun. Aku baik – baik aja kuk. “
Saat itu dokter masuk dan semuanya tampak jelas sekarang. Bahkan sakit kepalaku itu ternyata bukan sakit kepala biasa. Aku mengira semua ini lumrah sampai dokter menanyakannya.
“ Apakah sering terjadi sakit kepala yang bahkan dengan obat biasa belum bisa reda? “
“ Sering Dok. “
“ Apa sakitnya dengan frekuensi yang dekat? “
“ Benar Dok. “
“ Baik, saya jelaskan kepada anda Nona Tari. Menurut hasil CT-Scan kami, anda mengidap kangker otak stadium 4 dan secepatnya anda perlu melakukan kemoterapi. Saya sudah membicarakannya kepada orang tua anda dan kami akan mengatur jadwalnya. Sekarang Nona bisa beristirahat kembali. “
“ Ini gak bener kan Dok? Dokter bercanda kan? Ini gak bener kan Ma, Pa? Kalian semua jahat! Ini semua gak lucu! Aku mau pulang sekarang! “
“ Tari, tenang dulu sayang. Semua ini memang mengagetkan, tapi Mama mohon kamu tenang dulu. “ sambil memegangiku yang berontak Mama menyuruh dokter dan Papa untuk keluar dulu, “ Mama tahu ini berita yang mengagetkan, tapi kamu tenang dulu ya. Kita hadapi ini bersama – sama. Nico, kamu temenin Tari dulu ya! Tante mau nyusul Om. “
“ Iya Tan. “ setelah melihat Mama Tari keluar perlahan Nico menghampiri Tari dan menggenggam tangannya, “ Tar, kali ini aku gak bakal ninggalin kamu lagi. Aku janji. “
“ Jangan tinggalin aku lagi Co. Aku gak bakal kuat tanpamu. Aku gak mau kehilangan kamu lagi, tapi Nia? “
“ Nia Cuma tinggal sejarah. Karena perusahaan ayahnya bangkrut, Papa memutuskan pertunangan kami. Nia memang gak bakal bisa misahin kita. “
Hari demi hari berlalu dan aku merasa lebih bahagia dari sebelumnya karena Nico sekarang bersamaku melalui hari – hari yang berat. Terasa lebih ringan karena keceriaan Fanny yang selalu membuat kami tertawa. Kemo yang berat terasa ringan dengan orang – orang disampingku yang selalu memberiku semangat dan harapan. Mereka malaikatku dan cinta abadiku.
“ Tari, aku sayang sama kamu dan aku pengen kamu bahagia. Adakah satu hal yang pengen kamu lakukan saat ini? Katakan! Mungkin kita bisa lakukan bersama – sama. “
“ Aku pengen ke tempat kita tinggal dulu. Koda. Bisa antar aku kesana? “
“ Tapi tempatnya jauh ntar kamu kecapekkan. “
“ Aku pengen kesana dan aku gak tahu kapan bisa kesana lagi setelah hari ini. Aku pengen mengenang masa – masa kita bahagia dulu. Aku mohon. “
“ Baiklah. Kita kesana, tapi dengan satu syarat. Setelah dari sana gak ada lagi keluhan tentang betapa botaknya kepalamu dan betapa jeleknya kamu karena botak. Karena menurutku kamulah yang tercantik. Mengerti? “
“ Ne, arasso. “
“ Baiklah kalo begitu. Kita berangkat sekarang? “
“ Yup! “
“ Aku siapin mobil dulu ya? “
“ Kalo gitu aku tunggu diluar. “
Tak ada yang berubah dari Koda. 3 tahun aku tinggalkan dan tidak ada yang berubah. Semuanya sama. Bahkan taman tempat kencan pertama kami masih ditumbuhi bunga mawar yang indah. Bangunannya pun tak ada yang berubah sejak terakhir kami tinggal disana. Sungguh suasana yang menyenangkan menghabiskan waktu di tempat penuh kenangan. Tak ada salahnya mengingat kembali masa – masa ketika bahagia selalu menyelimuti dan kehadiran Nico saat ini melengkapi apa yang telah hilang dulu. Betapa ingin mengulang masa – masa indah dulu. Ketika kami masih bersama dan penyakit ini tak ada. Betapa ingin aku memutar waktu.
“ Semuanya masih sama seperti dulu. “
“ Benar. Aku ingat saat kamu nyatain perasaan di taman ini. Saat itu pulang sekolah hujan deras dan kita gak bawa payung lalu kita berteduh di gazebo. Kamu bilang suka padaku dan aku bilang kalo aku mau pikir – pikir dulu. “
“ Saat itu sebenarnya kamu memang sudah suka padaku kan? Cuma kamu terlalu malu buat ngomong. Aku ingat mukamu merah waktu bilang kamu juga suka padaku dan membuatkanku gelang ini. “ sambil menunjukkan gelang itu Nico lalu menggenggam tanganku.
“ Gelang itu masih kamu simpan? “
“ Tentu saja. Ini kan tanda cintamu padaku. Mana mungkin aku buang. Pasti bakal aku jaga. “
“ Makasih Nico. Kamu memang yang terbaik. Maaf selama ini aku berpikir kalo kamu egois dan memutuskan hubungan kita karena kamu tidak menyukaiku lagi. “
“ Hei, selamanya aku gak akan nyakitin kamu. Aku gak akan ninggalin kamu. Aku gak akan bikin kamu sedih lagi. Karena selamanya aku akan mencintaimu. Gak peduli ada apapun nanti kita bakal terus bersama. “
“ Makasih aku bahagia banget hari ini. Aku gak tahu bakal gimana kalo gak ada kamu. Ini bakal jadi kenangan indah buatku dan aku bakal bahagia setelah ninggalin dunia ini. “
“ Tari, kenapa kamu ngomong seperti itu. Gak akan ada yang ninggalin dunia ini. Kita bakal hidup bahagia. Jadi jangan mikir hal kayak gitu lagi. OK? “
“ Nico, semua pasti bakal pergi dari dunia ini dan aku mau kamu terus lanjutin hidup setelah aku pergi nanti. Aku pengen kamu tetep bahagia dan raih mimpi kamu. Suatu saat kamu bakal temuin cewek yang lebih baik dari aku. Cewek yang lebih sehat dari aku. Cewek yang bakal cintai kamu lebih dari cintaku buat kamu. Cewek yang gak bakal buat kamu sedih dan menderita. Dan cewek itu bukan aku. Aku gak pantes buat kamu. “
“ Tari! Aku gak mau kamu ngomong kayak gitu lagi. Semua yang terbaik untukku adalah kamu. Aku gak mau apapun kecuali kamu. Kamu harus paham itu. We’re meant for each other. “
“ Tapi aku cuma cewek pesakitan yang gak pantes buat kamu. Kamu berhak buat dapet yang lebih baik dari aku. “
“ Dengerin aku Tari! Semua yang aku pengen ada dalam diri kamu. Gak ada yang lain. Jadi jangan bodoh nyuruh aku cari cewek lain karena cewek yang terbaik ada di depan mataku sekarang. Cewek itu kamu. “
“ Makasih Co. “ Sambil terisak Nico meraihku dalam pelukannya.
Terimakasih Nico. Semua kenangan yang telah kamu berikan adalah kenangan yang terindah. Aku gak akan melupakannya. Sekalipun sekarang aku telah tiada aku berharap kamu selalu bahagia. Semua yang kau lakukan untukku membuatku tahu seberapa besar kau mencintaiku. Aku bersyukur sempat berada dalam kehidupanmu dan memilikimu walaupun hanya sebentar. Cintamu padaku begitu besar hingga kau mau melakukan apapun untukku. Maaf karena aku tidak bisa membalas cintamu. Aku pikir memang inilah yang terbaik karena cinta kita akan tetap abadi. Semoga kita bisa dipertemukan lagi dan bisa bahagia selamanya. Ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu saat di Koda, tapi aku gak sempat mengucapkkannya. Hanya satu pesan terakhir dariku. Tolong, jaga Fanny untukku.
Yang selalu mencintaimu,
 TARI

2 komentar: